Welcome Selamat Datang di My Blogspot http://pangearunbiru.blogspot.com/?m=0

Mengelola Konflik Keluarga Menjadi Daya Rekat

Hubungan sosial dan dinamika keluarga merupakan suatu keniscayaan fitrah bagi umat
manusia. Hubungan dan dinamika ini tidak terlepas dari suasana harmoni maupun disharmoni yang
semuanya itu bertolak dari pengelolaan konflik dan sumber-sumbernya secara baik sehingga apapun yang
ada, situasi, gejala dan reaksi yang timbul akan menjadi sebuah potensi kebaikan dan kebahagiaan dan
bukan sebaliknya. Seni pergaulan inilah sebenarnya substansi ajaran Nabi bahwa berjamaah, berkumpul,
bersatu dan bermasyarakat itu dengan dilandasi kesabaran dalam arti luas lebih disukai daripada
kepribadian kuper yang isolatif apalagi antisosial. Seni pergaulan untuk mengatasi berbagai perbedaan,
perselisihan, kontradiksi, pluralitas, heterogenitas, dan berbagai variabel ketegangan hubungan
membutuhkan manajemen konflik yang baik bagaikan sebuah sajian orkestra yang membutuhkan gerakan
dan permainan bunyi yang harmonis dari berbagai instrumen yang kontradiktif sehingga menimbulkan suara
yang merdu dan bukan bunyi yang fals yang memuakkan.

Konflik yang ada dalam pergaulan sosial dan kehidupan keluarga bagaikan garam yang menjadikan
masakan lezat dalam kadarnya yang proporsional dan merupakan garam bagi bahtera rumah tangga yang
membantu pelayaran kapal mengarungi samudera menuju cita-cita keluarga yang bahagia. Konflik tidak
selalu negatif dan yang membuat konflik berdampak negatif adalah cara menyikapi dan memahaminya.
Manajemen konflik ini dimaksudkan untuk menjadikan variabel konflik menjadi kontrol dan bahan evaluasi,
mencari cara untuk menekan ketegangan, meredam letupan maupun ledakan dan menghindari sebab-sebab
pemicunya, mengatasi konflik yang timbul dengan memprioritaskan keutuhan dan persatuan demi maslahat
dan kebaikan yang lebih luas dan panjang serta mengingat kebaikan yang ada (QS. Al-Baqarah:237). Di
samping itu berusaha membangun sistem dan budaya komunikasi keluarga yang baik, lancar dan terbuka
agar hubungan selalu harmonis.

Konflik dalam keluarga yang hampir menjadi perbincangan sehari-hari sebenarnya dapat dihindari paling
tidak dapat diminimalisasi bisa setelah perkawinan masing-masing pasangan menjaga komitmen untuk
selalu menjadikan perlakuan baik, sopan santun dan etika pergaulan dengan pasangan hidup menjadi
perhatian utama, sebagaimana mencurahkan perhatian kepada kawan baru. Sebab bila pengantin muda
mencurahkan perhatiannya sama banyak kepada pasangannya sebagaimana kepada kawan baru maka
niscaya pasangan akan berhenti mengecam dan mencari kesalahan, bukankah suami istri itu sudah menjadi
satu melebihi saudara yang di situ terdapat hak dan kewajiban ukhuwah. Samuel Vauclain direktur Baldwin
Locomotive Work: “Anda bisa mendapatkan apa saja dari setiap orang asal Anda menghormati orang lain,
dan menunjukkan bahwa Anda menghargai kecakapan-kecakapannya.” Shakespeare: “Bersikaplah seolah-
olah Anda sudah mempunyai sikap baik itu, meskipun Anda belum mempunyainya.” (QS. An-Nisa:19, QS. Al-Hujurat:10-12)

Hilangnya etika pergaulan suami-istri dan sopan santun merupakan bibit kanker yang menggerogoti benih-
benih rasa cinta dan simpati. Semua orang mengatakan hal ini, namun aneh sekali bahwa kita ini lebih
sopan terhadap orang-orang lain daripada terhadap anggota keluarga sendiri. Bahkan ironisnya justru
anggota-anggota keluarga kita sendiri yang paling dekat dan kita sayangi, kita berani dan sering menghina
serta menyakitinya dengan mengecam kesalahan-kesalahan kecil mereka. Memang aneh tapi nyata bahwa
sesungguhnya orang-orang yang paling kita hina dan sakiti hatinya biasanya adalah orang-orang terdekat
yang tinggal serumah dengan kita sebab, seperti kata psikolog Prof. Henry James bahwa kita ini semua
buta dan tidak peka terhadap perasaan-perasaan orang lain.

Sopan santun dan etika pergaulan keluarga dalam manajemen konflik keluarga adalah sangat vital sama
pentingnya dengan minyak dalam mobil. Namun begitu banyak orang yang di benaknya sama sekali tidak
punya pikiran untuk melemparkan hinaan dan hal-hal yang menyakitkan kepada rekan kerja atau pelanggan,
dengan seenaknya membentak-bentak pasangan hidupnya. Padahal bagi kebahagiaan sendiri tentunya
perkawinan adalah jauh lebih penting dan berarti daripada usaha ataupun karir kerjanya. Dan sulit dipahami
mengapa seseorang tidak berusaha sama kerasnya mensukseskan perkawinannya, seperti ia berusaha
mensukseskan usaha, karir dan perjuangan moral-sosialnya. Kita juga tidak habis pikir dan sulit memahami
sikap para pasangan yang kurang diplomatis dalam berkomunikasi, apalagi bahwa perlakuan yang sopan
dan manis sebenarnya jauh lebih murah dan menguntungkan daripada sebaliknya, yakni kasar dan kurang sopan.

Setiap orang tahu bahwa seseorang yang puas dan gembira akan bersedia melaksanakan apa saja dan
mengalah dalam banyak hal. Demikian pula beberapa pujian dan penghargaan yang sederhana sudah cukup
efektif meredam pemicu konflik serta mendorong untuk memberikan pelayanan dan perhatian balik yang
sangat besar dengan biaya yang hemat. Selanjutnya setiap pasangan juga tahu bahwa ciuman di mata
pasangannya dengan penuh kasih akan menutupinya untuk melihat kekurangan-kekurangannya, dan bahwa
ciuman yang mesra di bibirnya akan membuat kata-katanya yang tajam dan pahit menjadi manis seperti
madu. Pantaslah psikolog kondang Alfred Adler pernah mengatakan dalam bukunya Arti Hidup Ini Bagi
Anda : “Siapa yang tak ada perhatian kepada sesamanya, tidak saja akan mengalami banyak sekali masalah
dalam hidupnya sendiri, akan tetapi juga akan mendatangkan masalah bagi lingkungannya. Mereka itulah
orang-orang yang gagal di dunia ini.” Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi SAW.: “Barang siapa yang tidak
mempedulikan saudaranya muslim yang lain, maka ia keluar dari komunitas mereka.” Artinya orang yang
egois akan berpotensi masalah dengan membentangkan jarak dan memicu konflik horizontal.
Ajaran Islam sangat mengecam konflik liar tanpa kendali yang mengakibatkan perpecahan. (QS Al-An’am: 65.Al An-aam:159.)

Nabi saw selalu menyerukan kepada kehidupan berjamaah dan persatuan, mengecamsikap konfrontatif, disintegratif, perpecahan, serta mengajak ukhuwah dan mahabbah. Rasulullah saw bersabda:”tangan Allah bersama Jamaah”. “Seorang Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Barang siapa membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu keperluannya.” “Tidaklah beriman salah
seorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya.” “Tidak
boleh seorang muslim menghindari saudaranya di atas tiga hari. Keduanya bertemu kemudian saling
menghindar. Orang yang paling baik di antara keduanya ialah yang memulai salam”.

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian diberikan ampunan kepada setiap hamba
yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, kecuali seseorang yang sedang bermusuhan; lalu
dikatakan (kepada Malaikat):Tangguhkan dua orang ini sampai keduanya akur, tangguhkan dua orang ini
sampai keduanya akur, tangguhkan kedua orang ini sampai keduanya akur.” “Tiga orang shalatnya tidak
akan terangkat walaupun sejengkal di atas kepalanya: orang yang mengimami suatu kaum tetapi kaum itu
belum datang tetapi kaum itu membencinya, wanita yang dibenci oleh suaminya dan dua saudara yang
saling bermusuhan.”

Allah memang telah menciptakan manusia beraneka ragam kecenderungan, watak dan pembawaannya.
Setiap orang mempunyai kepribadian, pemikiran dan tabiat tersendiri. Hal ini terlihat dari penampilan
lahiriyahnya dan sikap mentalnya. Namun perbedaan ini hanyalah merupakan perbedaan yang bersifat
variatif dan bukan perbedaan paradoksal yang bertentangan dan konfrontatif, melainkan ia merupakan
kekayaan. Sebagaimana Allah menciptakan beraneka ragam tanaman dan buahnya walaupun disiram dengan
air yang sama. Tabiat alam adalah memiliki beraneka bentuk, iklim dan warna. Namun perbedaan itu
hanyalah sebagai perbedaan variatif saja dan tidak menimbulkan pertentangan antara satu dan yang lainnya.
Oleh karenanya, konflik yang dikelola secara positif dan menjadi kekuatan dinamis, konstruktif, evaluatif,
check and balance, dan kontrol merupakan keniscayaan sebagai rahmat yang Nabi saw tekankan sisi
positifnya : “Perbedaan ummatku adalah rahmat”. Akan tetapi perbedaan pendapat atau konflik yang kontra
produktif dan destruktif yang mengakibatkan perpecahan, perceraian dan permusuhan dicela dalam Islam.
Konflik inilah yang sangat dikecam oleh Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw. (QS. Ali Imran:103, 105, Al- Anfal:46)

Rumah tangga yang bahagia merupakan impian setiap manusia. Kadar kebahagiaan tersebut sangat
dipengaruhi berbagai faktor di antaranya: Faktor pertama berhubungan dengan masalah ciri-ciri kepribadian,
kondisi perasaan dan hubungan timbal balik antara individu dalam keluarga. Masalah ini merupakan faktor
yang paling dominan. Faktor kedua, meliputi hal-hal yang berkaitan dengan masalah ekonomi dan
manajemen keuangan keluarga. Faktor ketiga berkaitan dengan pemikiran-pemikiran umum untuk
mencemerlangkan kehidupan rumah tangga. Terutama dalam usaha mencapai idealisasi luhur dan
mewujudkan akhlaq dan agama yang luhur. Faktor keempat berhubungan dengan masalah sosial, hubungan
eksternal keluarga, serta yang bersifat pemanfaatan waktu senggang atau hiburan.

Salah seorang sosiolog mengadakan penelitian tentang standar adaptasi suami-istri sebagai modal manajemen konflik rumah tangga untuk mencapai kebahagiaan suami-istri yaitu:
1. Rasa cinta suami-istri harus terpatri erat
2. suami-istri harus mau mengembangkan cara yang benar dan baik dalam bergaul, saling menolong,embantu serta berusaha menjauhi hal - hal yang dapat menyebabkan keretakan rumah tangga karena perbedaan pribadi.
3. suami-istri harus mau bekerja sama, mengenang memori bersama-sama, membangun benang kasihsayang dalam setiap kesempatan.
4. Suami-istri harus saling menjamin agar tercapai kepuasan masing-masing. Terutama dalam hubunganseks.
5. Suami-istri wajib berusaha bersungguh-sungguh memecahkan setiap problem rumah tangga yangmuncul.
6. Suami-istri harus saling memberikan kebebasan mengekspresikan hal yang mungkin dilakukan.

Bekerja untuk mengembangkan potensi yang dimiliki selama tidak bertentangan dan mengganggu kehidupansuami-istri dan keluarga. Masing-masing pihak harus berusaha saling mengenal dengan baik agar kesesuaian antara mereka dapat tercapai.

Lock berhasil menyimpulkan dalam penelitiannya yang berkenaan dengan masalah urgensi adaptasi suami
istri untuk meredam konflik. Yaitu:
1. adaptasi merupakan faktor penting dalam kehidupan rumah tangga yang bahagia.
2. Saling pengertian berlandaskan pada benih-benih cinta dan emosi. Serta tumbuhnya semangat dan keinginan untuk beraktivitas bersama. Juga rasa saling menghormati dan saling pengertian.
3. Adaptasi bertumpu pada kemampuan masing-masing pihak menerima perasaan dan merespon emosi pihak lain.

Dr. Zakaria Ibrahim mengkonfirmasikan bahwa kehidupan suami istri itu harus diisi dengan rasa
kebersamaan, saling mengisi dan merasa senasib sepenanggungan. Suami istri hendaklah bersama-sama
bersumpah untuk saling setia. Masing-masing harus merasa sebagai bagian yang lain. Ketulusan dalam
berhubungan amat diperlukan. Perasaan, emosi, pemikiran dan tujuan kehidupan harus merupakan satu kesatuan yang utuh.

Dr. Dale Carnegie merumuskan enam cara untuk membangkitkan kebersamaan dan persatuan:
1. Memberikan perhatian, simpati dan empati yang tulus kepada orang lain
2. Memberikan senyuman yang jujur bagaikan mekarnya bunga di taman
3. Menyapa dengan panggilan yang menyejukkan hati
4. Menjadi pendengar yang baik dan doronglah orang lain untuk mengungkapkan isi hati dan mengalirkan gumpalan pikirannya
5. Berbicara mengenai hal-hal yang mengasyikkan orang lain
6. Berusaha membuat orang lain itu merasa bangga dan penting serta mengaguminya dengan ikhlas.

Kadangkala tidak dipungkiri bahwa suami istri memiliki pandangan yang berbeda dan salah satu harus dapat meyakinkan dan menjelaskan alasannya. Di antara metode komunikasi dan dialog yang sejuk serta meyakinkan orang lain adalah:
1. Satu-satunya cara yang benar dalam mengatasi konflik, jangan emosi dan bertengkar.
2. Hormatilah pendapat orang lain dan jangan cepat memvonisnya salah
3. Jika Anda yang salah cepat-cepat dengan kesatria mengakuinya dan mohon maaf secara ikhlas
4. Memulai segalanya dengan cara yang ramah tamah
5. Mencoba merubah orang dalam pendekatan persuasif bukan konfrontatif
6. Biarlah orang yang Anda hadapi itulah yang banyak berbicara
7. Biarlah dia mengira bahwa gagasan terpilih itu datangnya dari dia
8. Coba melihat persoalan melalui kacamata orang lain
9. Bersikaplah simpatik terhadap gagasan dan pemikiran orang lain
10. Sentuhlah perasaan orang lain dengan cara yang baik
11. Jelaskan maksud dan pikiran Anda dengan jelas dan menarik (QS. Fushilat:34)

Sumber

No comments: