Welcome Selamat Datang di My Blogspot http://pangearunbiru.blogspot.com/?m=0

TIRAKAT TAPABRATA SEMEDI

Tirakat

“Liring sepuh sepi hawa / Awas roroning atunggal / Tan
samar pamoring sukma / Sinukmanya winahya ing
ngasepi / Sinimpen telenging kalbu / Pambukaning
wanara / Tarlen saking liyep layaping ngaluyup / Pindha
sesating supena / Sumusiping rasa jati / Sajatine kang
mangkana / Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi /
Bali alaming asuwung / Tan karem karameyan / Ingkang
sipat wisesa-winisesa wus / Milih mula-mulanira /
Mulane wong anom sami”.
Manusia jawa (tiyang Jawi) pada saat tertentu rela/mau
dengan sengaja, menempuh kesukaran dan
ketidaknyamanan untuk maksud-maksud ritual dalam
budaya spiritualnya, yang berakar dari pikiran bahwa
usaha-usaha seperti itu dapat membuat orang teguh
imannya dan mampu mengatasi kesukaran-kesukaran,
kesedihan dan kekecewaan dalam hidupnya melalui
latihan keprihatinannya pada jalan tirakatnya. Mereka
juga beranggapan bahwa orang bisa menjadi lebih
tekun, dan terutama bahwa orang yang telah melakukan
usaha semacam itu kelak akan mendapatkan pahala.
Tirakat kadang-kadang dijalankan dengan berpantang
makan kecuali nasi putih saja (Mutih ) pada hari Senin
dan Kamis, dengan jalan berpuasa pada bulan Puasa
(Siyam ) ada terkadang juga berpuasa selama beberapa
hari (Nglowong ) menjelang hari-hari besar Islam,
seperti pada Bakda Besar (Bulan pertama menurut
perhitungan orang Jawa), yaitu bulan Sura. Orang Jawa
juga mempunyai adat untuk hanya makan sedikit sekali
(tidak lebih daripada yang dapat dikepal dengan satu
tangan) ngepel, untuk jatah makannya selama satu atau
dua hari, atau adat untuk berpuasa dan menyendiri
dalam suatu ruangan ( ngebleng ), bahkan ada juga yang
melakukannya di dalam suatu ruangan yang gelap pekat,
yang tidak dapat ditembus oleh sinar cahaya ( patigeni ).
Tirakat dapat juga dijalankan pada saat-saat khusus,
misalnya pada waktu orang menghadapi suatu tugas
berat, waktu mengalami krisis dalam keluarga, jabatan,
atau dalam hubungan dengan orang lain, tetapi dapat
juga pada waktu suatu masyarakat atau negara berada
dalam suatu masa bahaya, pada waktu terkena bencana
alam, epidemi dan sebagianya. Dalam keadaan seperti
itu melakukan tirakat dapat dianggap sebagai tanda rasa
prihatin yang dianggap perlu oleh orang Jawa bila
seseorang berada dalam keadaan bahaya.

Tapabrata (bertapa)

Tapabrata dianggap oleh para penganut agami Jawi
sebagai suatu hal yang sangat penting, Dalam
kesusateraan kuno orang kuno, konsep tapa dan
tapabrata diambil langsung dari konsep Hindu tapas ,
yang berasal dari buku-buku Veda. Selama berabad-
abad para pertapa dianggap sebagai orang keramat, dan
anggapan bahwa dengan menjalankan kehidupan yang
ketat dengan disiplin tinggi, serta mampu menahan hawa
nafsu, orang dapat mencapai tujuan-tujuan yang sangat
penting. Dalam cerita-cerita wayang kita sering dapat
menjumpai adanya tokoh pahlawan yang menjalankan
tapa.
Orang jawa mengenal berbagai cara bertapa, dan cara-
cara itu telah disebutkan oleh J. Knebel (1897 :
119-120 ) dalam karangannya mengenai kisah
Darmakusuma, murid dari seorang wali di abad ke 16,
berbagai cara menjalankan tapa adalah:
1. Tapa mangan , dilakukan dengan jalan tidak tidur,
tetapi boleh makan.
2. Tapa ngalong , dengan bergantung terbalik, dengan
kedua kaki diikat pada dahan sebuah pohon.
3. Tapa nguwat , yaitu bersamadi disamping makam
nenek moyang anggota keluarga, atau orang
keramat, untuk suatu jangka waktu tertentu.
4. Tapa bisu , dengan menahan diri untuk tidak
berbicara, cara bertapa semacam ini biasanya
didahului oleh suatu janji.
5. Tapa bolot , yaitu tidak dan tidak membersihkan diri
selama jangka waktu tertentu.
6. Tapa ngidang , dengan jalan menyingkir sendiri ke
dalam hutan.
7. Tapa ngramban, dengan menyendiri di dalam hutan
dan hanya makan tumbuh-tumbuhan
8. Tapa ngambang , dengan jalan merendam diri di
tengah sungai selama beberapa waktu yang sudah
ditentukan.
9. Tapa ngeli, adalah cara bersamadi dengan
membiarkan diri dihanyutkan arus air di atas
sebuah rakit.
10. Tapa tilem, dengan cara tidur untuk suatu jangka
waktu tertentu tanpa makan apa-apa.
11. Tapa mutih, yaitu hanya makan nasi saja, tanpa
lauk pauk.
Ketiga jenis tapa yang tersebut terakhir, sebenarnya
juga dilakukan oleh orang-orang yang hanya
menjalankan tirakat aja, oleh karena itu batas antara
tirakat dan tapabrata itu tidak begitu jelas. Walaupun
demikian bahwa kita harus memperhatikan bahwa ke 11
jenis tapabrata itu jarang dilakukan secara terpisah,
semua biasanya dijalankan dengan tata urut tersendiri,
atau dilakukan dengan cara menggabung-gabungkan.
Oleh karena itu tapa semacam itu mirip dengan tapa
pada orang hindu dahulu, sehingga dengan demikian
ada suatu perbedaan fungsional antara tirakat dan
tapabrata. Namun sering terjadi bahwa orang melakukan
tapabrata bersamaan dengan samadi, dengan maksud
untuk memperoleh wahyu. Tentu saja tujuan dari tapa
semacam ini adalah untuk mendapatkan kenikmatan
duniawian, akhirnya perlu disebutkan bahwa pada orang
Jawa tapa merupakan salah satu cara penting dan utama
untuk bersatu dengan Tuhan.

Meditasi

Bahwa meditasi dan tapa adalah sama, serta perbedaan
antara keduanya hanya terletak pada intensitas
menjalankannya saja. Teknik-teknik serta latihan-latihan
untuk melakukan meditasi ada bermacam-macam, yaitu
dari yang sangat sederhana, seperti memusatkan
perhatian pada titik-titik hujan yang jatuh ditanah,
hingga yang sukar dan berat dijalankan, seperti menatap
cahaya yang terang benderang dari dalam sebuah gua
yang gelap ditepi pantai, dengan gemuruh ombak
sebagai latar belakangnya, sambil berdiri dengan posisi
yang sukar selama 12 jam berturut-turut.
Meditasi atau semedi memang biasanya dilakukan
bersama-sama dengan tapabrata , orang yang melakukan
tapa ngeli misalnya, tidak hanya duduk diatas rakitnya
saja sambil bengong, tidak berbuat apa-apa, ia biasanya
juga bermeditasi. Sebaliknya meditasi seringkali juga
dijalankan bersama dengan suatu tindakan keagamaan
lain, misalnya dengan berpuasa atau tirakat.
Maksud yang ingin dicapai dengan bermeditasi itu ada
bermacam-macam, misalnya untuk memperoleh kekuatan
iman dalam menghadapi krisis sosial ekonomi atau
sosial politik, untuk memperoleh kemahiran berkreasi
atau memperoleh kemahiran dalam kesenian, untuk
mendapatkan wahyu, yang memungkinkannya melakukan
suatu pekerjaan yang penuh tanggung jawab atau untuk
menghadapi suatu tugas berat yang dihadapinya. Namun
banyak orang melakukan meditasi untuk memperoleh
kesaktian ( kasekten) disamping untuk menyatukan diri
dengan sang Pencipta.
Dalam olah batin, meditasi menjadi salah satu topik
pembicaraan yang tiada habis-habisnya. Tentu hal
tersebut ada sebabnya, sebabnya tiada lain karena
meditasi adalah salah satu usaha proses untuk
meningkatkan pengembangan pribadi seseorang secara
total.
Mengusahakan rumus yang pasti mengenai arti meditasi
tidaklah mudah, yang dapat dilakukan adalah memberi
gambaran berbagi pengalaman dari mereka yang
melakukan meditasi, berdasarkan pengalaman meditasi
dapat berarti :
1. Melihat ke dalam diri sendiri
2. Mengamati, refleksi kesadaran diri sendiri
3. Melepaskan diri dari pikiran atau perasaan yang
berobah-obah, membebaskan keinginan duniawi
sehingga menemui jati dirinya yang murni atau
asli.
Tiga hal tersebut diatas baru awal masuk ke alam
meditasi, karena kelanjutan meditasi mengarah kepada
sama sekali tidak lagi mempergunakan panca indera
(termasuk pikiran dan perasaan) terutama ke arah murni
mengalami kenyataan yang asli.
Perlu segera dicatat, bahwa pengalaman meditasi akan
berbeda dari orang ke orang yang lain, karena
pengalaman dalam bermeditasi banyak dipengaruhi oleh
latar belakang temperamen, watak dan tingkat
perkembangan spiritualnya serta tujuan meditasinya
dengan kulit atau baju kebudayaan orang yang sedang
melaksanakan meditasi.
Secara gebya- uyah (pada umumnya) orang yang
melakukan meditasi yakin adanya alam lain selain yang
dapat dijangkau oleh panca indera biasa. Oleh karena itu
mungkin sekali lebih tepat jika cara-cara meditasi kita
masukkan ke golongan seni dari pada ilmu. Cara dan
hasil meditasi dari banyak pelaku olah batin dari
berbagai agama besar maupun perorangan dari berbagai
bangsa, banyak menghasilkan kemiripan-kemiripan yang
hampir-hampir sama, tetapi lebih banyak mengandung
perbedaan dari pribadi ke pribadi orang lain. Oleh karena
itu kita dapat menghakimi hasil temuan orang yang
bermeditasi, justru keabsahan meditasinya tergantung
kepada hasilnya, umpamanya orang yang bersangkutan
menjadi lebih bijaksana, lebih merasa dekat dengan
Tuhan, merasa kesabarannya bertambah, mengetahui
kesatuan alam dengan dirinya dan lain-lainnya.
Keadaan hasil yang demikian, sering tidak hanya
dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang-
orang (masyarakat) di sekitar diri orang tersebut karena
tingkah-lakunya maupun ucapan-ucapannya serta
pengabdiannya kepada manusia lain yang membutuhkan
bantuannya, mencerminkan hasil meditasinya.
Cara bermeditasi banyak sekali. Ada yang memulai
dengan tubuh, arti meditasi dengan tubuh adalah
mempergunakan menyerahkan tubuh ke dalam situasi
hening. Lakunya adalah dengan mempergunakan
pernafasan, untuk mencapai keheningan, kita menarik
nafas dan mengeluarkan nafas dengan teratur. Posisi
tubuh carilah yang paling anda rasakan cocok / rileks,
bisa duduk tegak, bisa berbaring dengan lurus dan rata.
Bantuan untuk lebih khusuk jika anda perlukan,
pergunakan wangi-wangian dan atau mantra, musik
yang cocok dengan selera anda, harus ada keyakinan
dalam diri anda, bahwa alam semesta ini terdiri dari
energi dan cahaya yang tiada habis-habisnya.
Keyakinan itu anda pergunakan ketika menarik dan
mengeluarkan nafas secara teratur.
Ketika menarik nafas sesungguhnya menarik energi dan
cahaya alam semesta yang akan mengharmoni dalam diri
anda, tarik nafas tersebut harus dengan konsentrasi
yang kuat. Ketika mengelurkan nafas dengan teratur
juga, tubuh anda sesungguhnya didiamkan untuk
beberapa saat. Jika dilakukan dengan sabar dan tekun
serta teratur, manfaatnya tidak hanya untuk kesehatan
tubuh saja tetapi juga ikut menumbuhkan rasa tenang.
Bermeditasi dengan usaha melihat cahaya alam semesta,
yang dilakukan terus menerus secara teratur, akan dapat
menumbuhkan ketenangan jiwa, karena perasaan-
perasaan negatif seperti rasa kuatir atau takut, keinginan
yang keras duniawi, benci dan sejenisnya akan sangat
berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali, yang hasil
akhirnya tumbuh ketenangan. Meditasi ini harus juga
dilakukan dengan pernafasan yang teratur.
Kesulitan yang paling berat dalam bermeditasi adalah
mengendalikan pikiran dengan pikiran artinya anda
berusaha mengelola pikiran-pikiran anda, sampai
mencapai keadaan pikiran tidak ada dan anda tidak
berpikir lagi. Salah satu cara adalah mengosongkan
pikiran adalah dengan cara menfokuskan pikiran anda
kepada suatu cita-cita, umpamanya cita-cita ingin
menolong manusia manusia lain, cita-cita ingin
manunggal dengan Tuhan. Cita-cita ingin berbakti
kepada bangsa dan negara, cita-cita berdasarkan kasih
sayang dan sejenis itu menjadi sumber fokus ketika
hendak memasuki meditasi.
Secara fisik ada yang berusaha mengosongkan pikiran
dengan memfokuskan kepada bunyi nafas diri sendiri
ketika awal meditasi, atau ada juga yang menfokuskan
kepada nyala lilin atau ujung hidung sendiri.
Jika proses meditasi yang dilukiskan tersebut diatas
dapat anda lakukan dengan tepat, maka anda dapat
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam
pengertian spiritual, yang akibatnya pasti baik untuk diri
anda sendiri, mungkin juga bermanfaat untuk manusia
lain.
Sesuatu itu jangan dijadikan tujuan meditasi, karena
hasil sesuatu itu adalah hasil proses meditasi, bukan
tujuan meditasi. Jika dalam proses tersebut pikiran anda
belum dapat anda kuasai atau hilangkan janganlah
putus asa atau berhenti, tetapi juga memaksakan diri
secara keterlaluan. Pengembangan selanjutnya dari
proses meditasi tersebut, anda sendiri yang akan
menemukan dan meneruskannya, karena berciri sangat
pribadi.
Untuk dapat berhasil anda sangat perlu memiliki
motivasi yang cukup pekat dan dalam, sehingga dengan
tiada terasa anda akan bisa khusuk dalam keheningan
bermeditasi. Jika menemui sesuatu, apakah itu cahaya
atau suara atau gambaran-gambaran, jangan berhenti,
teruskan meditasi anda.
Pengalaman sesudah keadaan demikian, hanya andalah
yang dapat mengetahui dan merasakannya, karena tiada
kata kalimat dalam semua bahasa bumi yang dapat
menerangkan secara gamblang. Dalam keadaan demikian
anda tidak lagi merasa lapar, mengantuk bahkan tidak
mengetahui apa-apa lagi, kecuali anda tersadar kembali.
Biasanya intuisi anda akan lebih tajam sesudah
mengalami proses meditasi yang demikian itu, dan
mungkin pula memperoleh pengetahuan tentang alam
semesta atau lainnya.
Semedi
Samadi berasal dari kata Sam artinya besar dan Adi
artinya bagus atau indah. Seseorang yang melakukan
samadi adalah seseorang yang mengambil posisi-patrap
untuk meraih budi yang besar, indah dan suci. Budi suci
adalah budi yang diam tanpa nafsu, tanpa keinginan dan
pamrih apapun. Inilah kondisi suwung (kosong) tetapi
sebenarnya ada aktifitas dari getaran hidup murni, murni
sebagai sifat-sifat hidup dari Tuhan.
Budi suci terlihat seperti cahaya atau sinar yang disebut
Nur. Nur itu adalah hati dari budi. Kesatuan dari budi
dan nur secara mistis disebut curigo manjing warongko
atau bersatunya kawula dan Gusti atau juga biasa
digambarkan Bima manunggal dengan Dewa Ruci.
Istilah lainnya ialah Pangrucatan atau Kamukswan .
Pangrucatan itu artinya dilepas. Apa yang dilepas?
Pengaruh dari nafsu. Mukswa artinya dihapus. Apa yang
dihapus? Pengaruh dari nafsu. Oleh karena itu samadi
adalah satu proses dari penyucian budi. Budi menjadi
nur. Di dalam nur ini, kawula bisa berkomunikasi dengan
Gusti untuk menerima tuntunan sesuai dengan
kedudukannya sebagai kawula.
Waktu bersamadi orang bisa mengambil posisi duduk
atau tidur telentang diatas tempat tidur. Pilihlah tempat
yang bersih, tenang dan aman, bernafaslah dengan
santai, pada posisi tidur kaki diluruskan, kedua tangan
diletakkan didada. Dengarkanlah dengan penuh
perhatian suara nafas dengan tenang, menghirup dan
mengeluarkan udara melalui hidung. Ini akan membuat
pikiran menjadi tidak aktif. Nikmatilah suara nafas
dengan jalan menutup mata, ini sama seperti kalau
memusatkan pandangan kepada pucuk hidung.
Dengan melakukan ini, pikiran dinetralisir demikian juga
angan-angan dan pengaruh panca indera. Sesudah itu
nafsu dinetralisir didalam indera ke enam. Bila berhasil
orang akan berada dalam suwung dan nur mendapatkan
tuntunan mistis yang simbolis.
Manusia diciptakan oleh Tuhan, manusia adalah makluk
yangmempunyai :
1. Badan jasmani = badan kasar.
2. Badan jiwa = badan alus.
3. Badan cahaya = nur atau suksma
Dengan susunan seperti tersebut diatas, diharapkan
akan mampu mengetahui Sangkan Paraning Dumadi
(makna perjalanan kehidupan).
Memahami Jagad Raya.
Sebelum adanya jagad raya, tidak ada apa-apa kecuali
kekosongan dan suwung. Didalam suwung terdapat
sifat-sifat hidup dari Tuhan. Jagad Raya adalah suatu
Causa prima. Sifat-sifat hidup Tuhan terasa seperti
getaran dan getaran ini terus menerus.
Ada tiga elemen yang terdiri dari :
1. Elemen merah dengan sinar merah, ini panas
2. Elemen biru dengan sinar biru, ini dingin
3. Elemen kuning dengan sinar kuning, ini
menakjubkan.
Elemen-elemen ini selalu bergetar. Sebagai hasil dari
perpaduan ketiga elemen tersebut, elemen ke-empat
lahir dengan warna putih atau putih keperak-perakan
dan inilah yang disebut nur. Nur itu adalah sari dari
jagad raya, ada yang menjadi calon planet, ada yang
menjadi badan budi atau jiwa yaitu badan jiwa dari
manusia. Ketika nur menjadi sari dari badan jasmani
manusia, itu artinya di dalam jagad raya dan galaksi
akan selalu dilahirkan planet-planet dan bintang-
bintang baru. Kondisi dari plenet-planet yang baru
dilahirkan bisa berbeda antara yang satu dengan yang
lain, karena tergantung kepada pengaruh dari tiga
elemen tersebut, ada planet yang bisa dihuni dan yang
tidak bisa dihuni.
“Miyos saking renteging hawa / ambedah anggit
prayitnaing piker / sesumeh bayu ayuning asih /
njembari pajar latuning titah / ilang lunganing
ngawang / nemoni asrep reseping wening / ono sanepa
kagem pepiling”
Wong kang ambudi daya kalawan anglakoni tapa utawa
semedi kudu kanthi kapracayan kang nyukupi apa dene
serenging lan kamempengan anggone nindhakake. Atine
kudu santosa temenan supaya wong kang nindhakake
sedyane mau ora nganti kadadeyan entek pengarep-
arepe yen kagawa saka kuciwa dening kahanane badane,
wong mau kudu nindakake pambudi dayane luwih saka
wewangening wektu saka katamtuwaning laku kang
dikantekake marang sawiji-wijining mantram lan ajaran
ilmu gaib awit gede gedening kagelan iku ora kaya
wong kang gagal enggone nindakake lakune rasa kuciwa
kang mangkono iku nuwuhake prihatin lan getun, nganti
andadekake ciliking ati lan enteking pangarep-arep.
Sawise wong mau entek pangarep arepe lumrahe banjur
trima bali bae marang panguripan adat sakene mung
dadi wong lumrah maneh.
Kawruhana wong kang lagi miwiti ngyakinake ilmu gaib
sok-sok dheweke iku mesthi nemoni kagagalan-
kagagalan kang nuwuhake rasa kuciwa. Sawijining
wewarah kang luwih becik tumrap wong kang lagi
nglakoni kasutapan iya iku ati kang teguh santosa aja
kesusu-susu lan aja bosenan ngemungake wong kang
anduweni katetepan ati lan santosaning sedya-sumedya
ambanjurake ancase iya iku wong kang bakal
kasembadan sedyane. Wong ngyakinake prabawa gaib
iku anduweni kekarepan supaya dadi wong lanang
temenan kang diendahake dening wong akeh, iya anaa
ing ngendi wae enggone nyugulake dirine, Amarehe
diwedeni ing wong akeh panguwuhe gawe kekesing
wong yen anyentak dadi panggugupake lan gawe
gemeter dirine, ditrisnani ing wong akeh pitembungane
digatekake lan pakartine diluhurake ing wong akeh, iya
pancen nyata wong liyane mesthi tunduk marang
sawijining wong kang ahli ilmu.
Wong ahli kasutapan tansah yakin enggone ngumpulake
kekuwatan gaib ing dalem dhirine. Ana paedahe kang
migunani banget manawa wong nindakake pambudi
daya kalawan misah dheweke ana ing papan kang sepi
karana tinimune kekuwatan gaib iku sok-sok tinemu
dhewekan ana ing sepen. Wong ahli kasutapan kudu
budidaya bisane nglawan marang nepsune kekarepan
umum (kekarepan wong akeh kang campur bawur
ngumandang ana ing swasana), kalawan tumindak
mangkono wong ahli kasutapan mau dadi nduweni
pikiran-pikiran kang mardhika, iya pikiran-pikiran kang
mangkono iku kang bisa nekakake kasekten gaib.
Sangsaya akeh kehing kang kena tinides, uga sangsaya
gedhe tumandhoning kekuwatan gaib kang kinumpulake.
Kekuwatan gaib iku tansah makarti tanpa kendhat
enggone mujudake sedya lan nganakake kekarepan.
Wong ahli kasutapan kudu anduweni ati kang tetep lan
kekarepan kan dereng, kalawan ora maelu marang anane
pakewuh pakewuhe lan kagagalan-kagagalaning.
Kasekten iku kaperang ana rong warna, iya iku kasekten
putih (Witte magie/white magic) utawa kasekten ireng
(Zwarte magie/Black Magic). Awit saka anane perangan
mau banjur dadi kanyatan yen perangan kang sawiji iku
becik, dene perangan liyane ala.
Kasekten putih iku satemene ilmu Allah Kang Maha
Luhur wis mesthi bae kapigunakake mligi kanggo
kaslametane wong akeh. Dene kasekten ireng iku ilmu
kaprajuritan kang kapigunakake luwih-luwih kanggo
nelukake kalayan paripaksa, sarta bakal anjalari
kacilakaning wong liya. Ananing sakaro karone saka
sumber ilmu Allah sarta sakaro karane iku padha
dipigunakake kalawan atas asma Allah. Tinemune ilmu-
ilmu kasekten iki saranane kalawan kekuwataning
pikiran pikiran iku manawa kagolongake meleng sawiji
bisa nuwuhake kekuwatan kaya panggendeng kang rosa
banget tumrap marang apa bae kang dipikir lan disedya.
Wong kang nglakonitapa kalawan nindakake laku-laku
kang tinemtokake wis mesthi bae gumolonging pikirane
bebarengan padha kumpul dadi siji sarta katujokake
marang apa kang disedya kalawan mangkono iku
kekuwatan daya anarik migunakake sarosaning
kekuwatane banjur anarik apa kang dikarepake. Swasana
kang katone kaya dene kothong bae iku satemene ana
drate rupa-rupa kayata : geni murub emas kayu lemah
waja, electrieiteit zunrstof koolzunr sarpaning Zunr lan
isih akeh liya-liyane maneh.
Samengko umpamane ban ana sawijining wong kang
lagi tapa kalawan duwe sedya supaya andarbeni daya
prabawa kang luwih gedhe sarta anindakake sakehing
kekuwatan pikiran kalawan ditujokake marang sedyane
mau nganti nuwuhake daya prabawa. Kekuwataning daya
anarik saka pikiran iku banjur anarik dzat ing swasana
kang pinuju salaras karo daya prabawa mau kalawan
saka sathithik sarta sareh dzat daya prabawa kang ing
swasana iku katarik mlebu ing dalem badane wong kang
lagi tapa mau. Kalawan mangkono dzat prabawa iku
dadi kumpul ing dalem badane wong narik dzat iku
nganti tumeka wusanane badane wong ahli tapa, iku
bisa metokake daya prabawa kang gedhe daya karosane.
Wong kang andarbeni ilmu kang mangoko iku dadi
sawijining wong kang sakti mandraguna. Tumrap wong-
wong kang nglakoni tapa ditetepake pralambang telu :
Diyan, Jubah lan Teken. Diyan minangka pralambanging
pepadhang, tumrap kahanan kang umpetan utawa gaib.
Jubah minangka dadi pralambange katentremaning ati
kang sampurna, dene teken minangka dadi
pralambanging kekuwatan gaib.
Ing dalem sasuwene wong nglakoni tapa iku prelu
banget kudu migateake marang sirikane, kayata : wedi,
nepsu, sengit, semang-semang lan drengki. Rasa wedi
iku sawijining pangrasa kang luwih saka angel
penyegahe. Menawa isih kadunungan rasa wedi ing
dalem atine wong ora bakal bisa kasambadan apa kang
disedyaak. Kalawan rasa wedi iku atining wong dadi ora
bisa anduweni budi daya apa-apa.
Sajrone nglakoni tapa utawa salagine ngumpulake
kekuwatan gaib, atining wong iku mesthi kudu tetep
tentrem lan ayem sanadyan ana kadadeyan apa wae.
Manawa atine wong iku nganti gugur, kasutapan iya uga
dadi gugur lan kudu lekas wiwit maneh. Gegeman
kalawan wadi sakehing ilmu gaib lkang lagi pinarsudi,
luwih becik murih nyataning kasekten tinimbang karo
susumbar kalawan kuwentos kayakenthos.
Nepsu iku andadekake tanpa dayane kekuwataning
batin. Semang-semang iku andadekake ati kang peteng
ora padhang terang. Sengit utawa drengki iku uga dadi
mungsuhing kekuwatan gaib. Wong kang lagi nindakake
katamtuwan ing dalem kasutapan kudu kalawan ati kang
sabar anteng lan tetep.
Patrapebadan kang kaku lan kagugupan kudu didohake:
Aja sok singsot
Aja duwe lageyan sok nethek nethek
kalawan driji tangan marang meja kursi
utawa papan liyane.
Aja ngentrok-entrokake sikil munggah
mudhun.
Aja sok anggigit kukuning dariji tangan.
Aja mencap-mencepake lambe.
Aja molahake lidhah lan andhilati lambe.
Aja narithilake kedheping mata.
Ngedohake sakehing saradan utawa
bendana kang ora becik, kayata glegak-
glegek molah-molahake sirah, kukur-
kukur sirah, ngangkat pundhak lan liya-
liyane sabangsane saradan kabeh.
Satemene perlu banget nyirnakake kekarepan drengki luk
wit ngrasaning karep drengki iku banget nindhih marang
diri pribadi. Ana maneh drengki iku kaya anggawa
sawijining pikulan abot kang tansah nindhes marang
dhiri lan sarupa ana barang atos medhokol kang
angganjel pulung ati. Drengki lan meri iku mung
anggawa karugiyan bae tumrap kita, ora ana gunane
sathithik -thithika. Salawase wong isih anduweni
pangrasan karep drengki lan meri iku ora bakal bisa
tumeka kamajuwane tumrap dunya prabawaning gaib.
Ora mung tumindak bae tumrap sawijining wong bae
bisa maluyakake wong liya kalawan kekuwatan gaib
nanging uga tumindak tumrap sawijining wong
maluyakake dhiri pribadi kalawan kekuwatan iku. Bisane
maluyakake larane wong liya, mesthine kudu ngirima
kekuwatan waluya marang sajroning badane wong kang
lara. Manawa wong gelem naliti yen wong iku bisa
ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem badane dhewe
lan ngetokake sabageyan kekuwatan gaib kawenehake
marang wong liyane mestheni uwong bisa ngreti yen
arep migunakake kekuwatan iku nganggo paedahe dhiri
dhewe uga luwih gampang.
Supaya bisa nindhakake pamaluya marang dhirine dhewe
kalawan sampurna wong ngesthi kudu mahamake cara-
carane maluyakake panyakit. Iya iku cara-cara kang
katindakake kanggo maluyakake wong liya lan wusanane
ambudidaya supaya bisa migunakake obah-obahan iku
marang awake dhewe.
Kawitane wong kudu nindakake patrape mangreh napas,
kanggo negahake asabat. Dene carane ngatur napas iku
kaprathelakake kalayan ringkes kaya ing ngisor iki:
Madika panggonan kang sepi.
Lungguha ing sawijining palinggihan
kang endhek lan kepenak, sikil karo pisan
tumapak ing lemah.
Badan kajejegake lan janggute diajokake.
Benik-beniking klambi kang kemancing
padha kauculan, sabuk uga diuculi
supaya sandangan dadi longgar lan
kepenak kanggo tumindhak ing napas.
Pikiran katarik mlebu, supaya luwar saka
sakehing geteran pikiran kaya saka ing
jaba.
Sakehing urat-urat kakendokake.
Banjur narika napas kalawan alon lan
nganti jero banget tahanen napas iku
sawatara sekon/detik (kira-kira 6 detik)
lan wusanane wetokna napas iku kalawan
sareh.
Anujokna gumolonging pikiran kalawan ngetut marang
napas kang mlebu metu iku kalawan giliran. Cara
nindakake napas kaya ing ngisor iki:
Narik napas kalawan alon lan nganti jero
ing sabisane, nganti dhadha mekar lan
weteng dadi nglempet.
Nahan napas iku kira-kira nem saat
utawa luwih suwe ing dalem paru-paru
dhadhane cikben lestari mekare, lan
wetenge cikben lestaringlempetake
kalawan mangkono iku gurung dalaning
napas tansah tetep menga.
Ambuangna napas kalawan alon nganti
entek babar pisan nganti dhadha dadi
kempes, lan weteng dadi mekar.
Banjurna marambah-rambah matrapake
mangkono iku suwene kira-kira saka lima
tumeka limolas menit utawa luwih suwe
nganti bisa nemoni pangrasa anteng lan
tentrem ing sajroning badan.
Carane matrapake kasebut ing dhuwur iku sawijining
cara kanggo napakake napas, iki kena lan kudu
ditindakake saben dina telung rambahan, dening sapa
bae kang nglakoni tapa supaya oleh ilmu gaib. Daya
kang luwih bagus iya iku miwiti makarti miturut
pituduhan. Aja weya nindakake patrap kanggo napakake
napas iku.
Cara matrapake tumindaking napas iku kena uga
ditindakake kalayan leyeh-leyeh mlumah : ngendokake
sakabehing urat-urat nyelehake tangan karo pisan
sadhuwuring weteng lan nindakake lakuning napas
miturut aturan. Daya ngisekake Prana Ngadeg kalawan
jejeg sikil karo pisan kapepetake dadi siji lan driji -
drijining tangan karo pisan dirangkep dadi siji kalawan
longgar.
Banjur matrapa lakuning napas sawatara rambahan
miturut aturan. Gawe segering utek lungguha kalawan
jejeg lan nyelehna tangan karo pisan ing sandhuwuring
pupu kiwa tengen: mripat mandheng marang arah ing
ngarep kalawan tetep: sikil karo pisan tumadak ing
lemah. Kalawan jempol tangan tengen anutup lenging
grana sisih tengen lan anarika napas liwat lenging grana
sisih kiwa, wusana nglepasake jempol iku banjur
ambuwang napas lan nutupa lenging grana kiwa
kalawan driji narika napas liwat lenging grana tengen,
lepasna driji panutup iku lan ambuwanga napas.
Mangkono sabanjure kalawan genti-genten kiwa lan
tengen.

No comments: