TRANSKIP PIDATO LENGKAP PEMBUKAAN KAA KE-60 DI JCC JAKARTA

Transkip lengkap dari pidato Jokowi di hadapan sejumlah Kepala negara dan delegasi peserta KAA ke 60.

Presiden Joko Widodo bersama para pemimpin negara membuka perhelatan akbar Asian-African Summit yang merupakan puncak rangkaian peringatan 60 tahun Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (22/4/2015). Sebanyak 32 kepala negara dan delegasi dari 92 negara menghadiri rangkaian peringatan ke-60 tahun Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Jakarta dan Bandung yang digelar hingga 24 April 2015.

_________________________________________________________________________________

Yang terhormat pemimpin negara dan pemerintahan, pemimpin delegasi.
Yang terhormat, Jusuf Kalla, Megawati, BJ Habibie, Tri Sutrisno, Hamzah Haz.

Atas nama rakyat dan pemerintah Indonesia saya ucapkan selamat datang di Indonesia, negara penggagas dan tuan rumah KAA 1955.
Enam puluh tahun lalu Bapak Bangsa kami Presiden Soekarno, Bung Karno, mencetuskan gagasan tersebut demi membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika utk mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka yang menolak ketidakadilan, yang menentang segala bentuk imperalisme.
Enam puluh tahun lalu, solidaritas Asia-Afrika, kita kumandangkan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Untuk menciptakan kesejahteraan dan untuk memberi keadilan bagi rakyat kita. Itulah gelora KAA 1955. Itulah esensi semangat Bandung.
Kini, 60 tahun kemudian, kita kembali bertemu di negeri ini, di Indonesia, dalam suasana dunia yang berbeda bangsa-bangsa terjajah telah merdeka dan berdaulat, namun perjuangan kita belum selesai.
Yang mulia para hadirin sekalian,
Dunia yang kita warisi sekarang masih sarat dengan ketidakdilan, kesenjangan dan kekerasan global, cita-cita bersama mengenai lahirnya sebuah peradaban baru, sebuah tatanan dunia baru berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan kemakmuran, masih jauh dari harapan. Ketidakadilan dan ketidakseimbangan global masih terpampang di hadapan kita.
Ketika negara-negara kaya yang hanya sekitar 20 persen penduduk dunia, menghabiskan 70 persen sumber daya bumi maka ketidakadilan menjadi nyata. Ketika ratusan orang di belahan bumi sebelah utara menikmati hidup super kaya, sementara 1,2 miliar penduduk dunia di sebelah selatan tidak berdaya dan berpenghasilan kurang dari 2 dolar per hari, maka ketidakadilan semakin kasat mata.

Ketika ada sekelompok negara kaya merasa mampu mengubah dunia dengan menggunakan kekuatannya, maka ketidakseimbangan global jelas membawa sengsara yang semakin kentara ketika PBB tidak berdaya.
Aksi-aksi kekerasan tanpa mandat PBB, seperti kita saksikan, telah menafikkan keberadaan badan dunia yang kita miliki bersama itu. Oleh karena itu kita bangsa-bangsa di Asia-Afrika mendesak reformasi PBB. Agar berfungsi secara optimal sebagai badan dunia yang mengutamakan keadilan bagi kita semua, bagi semua bangsa.
Bagi saya, ketidakadilan global terasa semakin menyesak dada. Ketika semangat Bandung yang menuntut kemerdekaan bagi semua bangsa-bangsa Asia-Afrika masih menyisakan utang selama enam dasawarsa.
Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina yang hidup dalam ketakutan dan ketidakadilan akibat penjajahan yang berlangsung begitu lama.
Kita tidak boleh berpaling dari penderitaan rakyat Palestina, kita harus terus berjuang bersama mereka. Kita harus mendukung lahirnya sebuah negara Palestina yang merdeka.
Yang mulia pada hadirin sekalian,
Ketidakadilan global juga terasa ketika sekelompok dunia enggan mengakui realita dunia yang telah berubah. Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF dan ADB adalah pandangan yang usang yang perlu dibuang.

Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa hanya diserahkan kepada ketiga lembaga keuangan internasional itu. Kita wajib membangun sebuah tatanan ekonomi baru yang terbuka bagi kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Kita mendesak dilakukannya reformasi arsitektur keuangan global untuk hilangkan dominasi kelompok negara atas negara-negara lain.
Saat ini dunia membutuhkan kepemimpinan global yang kolektif, yang dijalankan secara adil dan bertanggung jawab dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang bangkit, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di muka bumi, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia, siap memainkan peran global sebagai kekuatan positif bagi perdamaian dan kesejahteraan.
Indonesia siap bekerjasama dengan semua pihak untuk wujudkan cita-cita mulia itu.
Yang mulia pada hadirin sekalian,
Hari ini dan esok kita berkumpul di Jakarta untuk menjawab tantangan ketidakadilan dan ketidakseimbangan itu. Hari ini dan esok, rakyat kita menanti jawaban terhadap persoalan-persoalan yg mereka hadapi.
Hari ini dan hari esok dunia menanti langkah-langkah kita dalam membawa bangsa-bangsa Asia-Afrika berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kita bisa melakukan itu semua dengan membumikan Semangat Bandung dengan mengacu pada tiga cita-cita yang diperjuangkan para pendahulu kita 60 tahun lalu.
Pertama, kesejahteraan. Kita harus pererat kerja sama untuk hapuskan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan layanan kesehatan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memperluas lapangan kerja.

Kedua, solidaritas. Kita harus tumbuh bersama dan meningkatkan perdagangan investasi di antara kita dengan membangun kerja sama ekonomi antara kawasan Asia-Afrika dengan saling membantu dalam konektivitas yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan kita, bandara-bandara kita dan jalan-jalan kita. Indonesia akan bekerja menjadi jembatan maritim yang menghubungkan kedua benua.
Ketiga, stabilitas internal dan eksternal dan penghargaan pada HAM. Kita harus bertanya apa yang salah dengan kita sehingga banyak negara Asia-Afrika dilanda berbagai konflik internal dan eksternal yang menghambat pembangunan.
Kita harus bekerjasama menghadapi ancaman kekerasan, pertikaian dan radikalisme seperti ISIS. Kita harus melindungi hak-hak rakyat kita. Kita harus menyatakan perang pada narkoba yang menghancurkan masa depan anak-anak kita.
Kita harus menyelesaikan berbagai pertikaian baik dalam negeri atau antar negara secara damai. Oleh karenanya Indonesia memprakarsai pertemuan informal negara-negara Organisasi Kerjasama Islam untuk mencari penyelesaian berbagai konflik yang kini melanda dunia Islam.
Kita juga harus bekerja keras menciptakan stabilitas dan keamanan yang jadi prasyarat pembangunan bangsa.
Kita juga harus pastikan samudera kita, laut kita, aman bagi lalu lintas perdagangan dunia. Kita menuntut agar sengketa antar negara tidak diselesaikan dengan penggunaan kekerasan. Ini tugas dan tantangan di hadapan kita yang harus kita rumuskan dalam siding KAA ini.
Melalui forum ini saya ingin menyampaikan keyakinan saya bahwa masa depan dunia ada di sekitar ekuator. Di tangan kita. Bangsa-bangsa Asia-Afrika yang ada di dua benua.

____________________________________________________

GELAR MASYARAKAT JAWA

Kebangsawanan dalam masyarakat di Indonesia umumnya dan masyarakat Jawa khususnya adalah mitos harga diri yang melekat pada seseorang dan diakui sebagai status sosial seseorang. Masyarakat umum menganggap bahwa kebangsawanan adalah keturunan atau genetis dari orangtuanya yang memang dianggap oleh masyarakat sekitarnya sebagai tokoh mitos. Di masyarakat Jawa kebangsawanan dianggap sebagai mitos "berdarah biru", sehingga muncul dalam kehidupan budaya khususnya dalam memilih calon pasangannya perlu melihat "bobot, bibit, bebet". Dalam hal ini bibit maksudnya adalah faktor genetis yang konon jika seseorang adalah keturunan bangsawan maka keturunannya juga akan jadi bangsawan atau disebut "legi rembesing madu". Benarkah kebangsawanan adalah kodrat? Mitos, atau genetis?. 
Fakta yang berkembang di masyarakat sudah sedikit berubah. Status sosial ternyata terkait dengan kepemilikan materi dan adat kebiasaan serta kontribusinya terhadap masyarakat yang melekat pada seseorang. Justru, perasaan dan sikap pembawaan diri untuk mempertahankan status sosial, sementara faktor eksternalitas seperti pendidikan, keiamanan, sikap dan kontribusinya yang tidak mumpuni, hal ini akan membawa bencana bagi yang bersangkutan.

Kita kembali membahas Gelar Kebangsawanan Raja-raja di Tanah Jawa. Secara garis besar Gelar kebangsawanan masyarkat Jawa diberikan oleh Kerajaan kepada seorang Raja berikut keturunannya dan Gelar kepada warga diluar Kerajaan karena pengabdiannya terhadap kerajaan. Pemberian gelar diberikan Raja kepada seseorang yang ditunjuk berdasarkan kriteria kerajaan, diberikan sertifikat dan stempel kerajaan melalui prosesi "wisudan" yang dilakukan di lingkungan kerajaan "Keraton". 

Namun, diluar keraton ada pemberian gelar oleh masyarakat terhadap seseorang karena jasa, kontribusi, kesaktian dan manfaatnya bagi masyarakat sekitarnya, seperti halnya : Kyai, Raden Mas, Bendoro, Romo, dll. Perolehan Gelar Sosial tersebut diperoleh secara otomatis, tidak melalui prosesi dan tanpa sertifikat dari Petinggi Kerjaaan dan Pemerintahan. Untuk gelar sosial ini tidak dibahas disini.

 

Gelar-gelar di lingkungan Kerajaan

Seorang raja di kerajaan Mataram biasanya memiliki beberapa orang istri / selir (garwa ampeyan) dan seorang permaisuri / ratu (garwa padmi). Dari beberapa istrinya inilah raja tersebut memperoleh banyak anak lelaki dan perempuan dimana salah satu anak lelakinya akan meneruskan tahtanya dan diberi gelar putra mahkota. Sistem pergantian kekuasaan yang diterapkan biasanya adalah primogenitur lelaki (bahasa Inggrismale primogeniture) dimana anak lelaki tertua dari permaisuri berada di urutan teratas disusul kemudian oleh anak lelaki permaisuri lainnya dan setelah itu anak lelaki para selir.

Gelar Kasunanan

Gelar yang dipakai di Kasunanan Surakarta:

Penguasa Kasunanan: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kaping ... (SISKS)

Permaisuri Susuhunan Pakubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:

Ratu Kilen (Ratu Barat)

Ratu Wetan (Ratu Timur)

Selir Susuhunan Pakubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy), dengan urutan:

Bandara Raden Ayu

Raden Ayu

Raden

Mas Ayu

Mas Ajeng

Mbok Ajeng

Pewaris tahta Kasunanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram.

Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Raden Mas Gusti (RMG)

Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Gusti Pangeran (KGP), dengan urutan:

Mangku Bumi

Bumi Nata

Purbaya

Puger

Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)

Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Kanjeng Pangeran (BKP)

Cucu lelaki dari garis pria: Bendara Raden Mas (BRM)

Cicit lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)

Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)

Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)

Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:

Sekar-Kedhaton.

Pembayun.

Maduratna.

Bendara.

Angger.

Timur.

Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)

Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)

Anak perempuan tertua dari selir ketika sudah dewasa: Ratu Alit

Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)

Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

Gelar Kesultanan

Gelar yang dipakai di Kesultanan Yogyakarta

Penguasa Kesultanan: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping ... (yang berarti pemimpin yang menguasai dunia, komandan besar, pelayan Tuhan, Tuan semua orang yang percaya)

Permaisuri Sultan Hamengkubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)

Selir Sultan Hamengkubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)

Pewaris tahta Kesultanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram

Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Raden Mas (GRM)

Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH)

Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)

Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Pangeran Harya (BPH)

Cucu lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)

Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)

Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)

Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)

Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)

Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)

Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)

Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

Gelar Paku Alaman

Gelar yang dipakai di Kadipaten Paku Alaman di Yogyakarta

Penguasa Paku Alaman: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Raja Paku Alam Kaping ...

Permaisuri Raja Paku Alam: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)

Selir Raja Paku Alam: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)

Pewaris tahta Paku Alaman (putra mahkota): Bandara Pangeran Harya Suryadilaga

Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Bendara Raden Mas (GBRM)

Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Pangeran Harya (KPH)

Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Raden Mas (RM)

Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Raden Harya (BRH)

Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: Raden Mas (RM)

Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria: Raden

Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ajeng (GBRA)

Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ayu (GBRAy)

Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)

Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)

Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)

Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)





Gelar Mangkunagaran

Gelar yang dipakai di Praja Mangkunagaran di Surakarta

Penguasa Mangkunagaran: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Mangku Negara Senapati ing Ayuda Kaping ... (KGPAA)

Permaisuri Raja Mangkunagara: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)

Selir Raja Paku Mangkunagara: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)

Pewaris tahta Mangkunagaran (putra mahkota): Pangeran Adipati Harya Prabu Prangwadana

Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri: Gusti Raden Mas (GRM)

Anak lelaki dari selir: Bendara Raden Mas (RM)

Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: Raden Mas (RM)

Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria: Raden

Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)

Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)

Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)

Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)

Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)



Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

Gelar lain

Selain beberapa gelar tersebut di atas, di lingkungan keraton sering juga dijumpai sebutan khusus seperti:

Sekarkedhaton (untuk menyebut putri sulung permaisuri)

Sekartaji (untuk putri kedua)

Candrakirana (untuk putri ketiga)

Putra tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendara Raden Mas Gusti dan akan berubah menjadi Gusti Pangeran setelah diangkat menjadi pangeran. Sedangkan putri tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendoro Raden Ajeng Gusti dan akan berubah menjadi Pembayun setelah menikah. Khusus untuk putri sulung (tertua) dari Garwa Ampéyan mendapat gelar Kanjeng Ratu.

Beberapa gelar yang diberikan/dianugerahkan/diturunkan baik oleh trah Kesultanan, Kasunanan, Pakualaman atau Mangkunegaran memiliki beberapa karakteristik khas yang terdiri dari gelar turunan (darah) dan istimewa. Gelar-gelar yang telah anda baca di atas merupakan gelar-gelar turunan hanya sampai generasi ketujuh saja. Untuk generasi selanjutnya (8 sampai ...), bagi putra mendapatkan gelar Raden (R.) dan bagi putri gelarnya Rara (Rr.). Gelar tersebut berlaku sampai generasi ke berapapun dengan catatan berasal dari keturunan lelaki.
Dalam lingkup gelar kebangsawanan Mataram Islam, 4 praja nagari (Kesultanan, Kasunanan, Pakualaman, Mangkunegaraan) juga mengenal Gelar Istimewa. Gelar-gelar ini dibedakan menjadi 2 macam, yakni dapat diteruskan pada generasi berikutnya baik putra maupun putri dengan syarat sepengetahuan pihak keraton dan yang tidak dapat diturunkan pada generasi berikutnya dengan alasan merupakan gelar jabatan. Pada gelar istimewa yang dapat diturunkan, untuk keturunan dari lelaki dapat memperoleh gelar yang sama dengan generasi sebelumnya, khusus keturunan dari perempuan gelarnya akan diturunkan sesuai tingkatan gelar umum. Jika tingkatan gelar keturunan dari perempuan habis maka keturunan berikutnya tidak mendaptkan gelar lagi. Contoh gelar yang dapat diturunkan :

Putra :

Raden Mas (R.M.)

Raden (R.)

Raden Bagus (pernah digunakan dahulu: R.B.)

Raden Mas Ngabehi (R.MNg.)

Raden Ngabehi (R.Ng.)

Mas Ngabehi (M.Ng.)

Raden Panji (pernah digunakan dahulu : R.P.)

Mas / Mas Anom (merupakan gelar terakhir : ditulis lengkap)

Putri :

Raden Ayu (R.A.)

Rara (Rr.)

Raden Nganten (berlaku untuk 1-2 tingkat keturunan : R.Ngt.)

Mas Ayu

Nimas Ayu

Nimas / Putri / Ayu ((merupakan gelar terakhir : ditulis lengkap)

Perlu diperhatikan untuk poin ketiga dan seterusnya pada gelar putra & putri, gelar-gelar tersebut dapat diwisudakan pada generasi selanjutnya dengan beberapa pendapat :
1. jika keturunannya sudah dewasa, atau
2. jika sudah diketahui pihak keraton, atau
3. jika disetujui pihak keraton.

Polemik gelar itu masih simpang siur. Namun bagi keturunan yang telah yakin dengan gelar yang disandang, hendaklah arif menggunakan gelar tersebut karena menyangkut harkat dan martabat generasi di atasnya. Khusus untuk gelar putri apabila ada seorang putri dengan gelar RA. menikah dengan priyayi alit (masyarakat biasa) dan mempunyai anak putri maka gelar anaknya tersebut diturunkan menjadi Rr. dan seterusnya.

Contoh Gelar Istimewa karena Jabatan :



Kirab Grebeg Kyai Tuksongo



Biasa disandang oleh para Priyayi Anom, Adipati, Patih, Bupati, Wedana, Camat, Mantri dsb. (gelar ini dahulu disandangkan pada laki-laki, karena pemangku jabatan mayoritas adalah laki-laki, sedangkan istrinya juga mendapatkan gelar istimewa namun jarang)

Kanjeng Radèn Harya Tumenggung (KRHT)

Mas Radèn Harya Tumenggung (MRHT)

Kanjeng Radèn Mas Tumenggung (KRMT)

Radèn Mas Tumenggung (RMT)

Mas Tumenggung / Mas Adipati / Mas Anom Adipati

Kanjeng Mas Ayu Tumenggung

Mas Ayu Tumenggung

Nimas Ayu Tumenggung

Raden Ngabehi (RNg)

Radèn Ngantèn (RNgt)

Mas Ngabéi (MNg)

Mas Ayu

KALENDER JAWA

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: 
Siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, danSiklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran.Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Contoh Kalender JawaDekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali BantenBatavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.

Daftar bulan Jawa Islam

Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sansekerta seperti Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar).

Sura

Sapar

Mulud

Bakda Mulud

Jumadilawal

Jumadilakir

Rejeb

Ruwah (Arwah, Saban)

Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan)

Sawal

Sela (Dulkangidah, Sela, Apit) *

Besar (Dulkijah)

*)Nama alternatif bulan Dulkangidah adalah Sela atau Apit. Nama-nama ini merupakan peninggalan nama-nama Jawa Kuna untuk nama musim ke-11 yang disebut sebagai Hapit Lemah. Sela berarti batu yang berhubungan dengan lemah yang artinya adalah “tanah”. Lihat juga di bawah ini.

Bulan Jawa Kalender Matahari

Pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan komariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagaipranata mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Sebenarnya pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada zaman pra-Islam. Lalu oleh beliau tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya. Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda.

Pranata Mangsa (baca : panoto mongso) sbb :

Kasa - (23 Juni-2 Agustus)

Karo - (3 Agustus-25 Agustus)

Katiga (Katelu) - (26 Agustus-18 September)

Kapat - (19 September-13 Oktober)

Kalima - (14 Oktober-9 November)

Kanem - (10 November-22 Desember)

Kapitu - (23 Desember-3 Februari)

Kawolu - (4 Februari-1 Maret)

Kasanga - (2 Maret-26 Maret)

Kasepuluh - (27 Maret-19 April)

Dhesta* - (20 April-12 Mei)

Sadha* - (13 Mei-22 Juni)

Dalam bahasa Jawa Kuna mangsa kesebelas disebut hapit lemah sedangkan mangsa keduabelas disebut sebagai hapit kayu. Lalu nama dhesta diambil dari nama bulan ke-11 penanggalan Hindu dari bahasa Sansekerta jyes.t.ha dan nama sadha diambil dari kata âs.âd.ha yang merupakan bulan keduabelas.

Siklus Windu

Budaya Barat menggabung-gabungkan tahun-tahun kedalam kelompok 100 tahun (century, abad), dekade (10 tahun), maka kalender Jawa menggabungkan tahun-tahun menjadi semacam dekade yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil dari abad atau dekade. Setiap satuan Jawa ini terdiri atas 8 tahun dan disebut Windu. Di bawah disajikan nama-nama windu:

Alip

Ehe

Jimawal

Je

Dal

Be

Wawu

Jimakir

Pembagian Pekan

Siklus Pekan hari dalam istilah umum adalah 7 hari. Pekan dalam bahasa Jawa adalah (peken : pasar), sehingga satu pekan adalah 5 hari pasaran.

Pada masa Pra-Islam, orang Jawa mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja, namun dari 2 sampai 10 hari. Pekan-pekan ini disebut dengan nama-nama :

dwiwara,

triwara,

caturwara,

pañcawara (pancawara),

sadwara,

saptawara,

astawara dan

sangawara.

Zaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, namun di pulau Bali dan di Tengger, pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.

Pekan dalam arti Pasar, terdiri atas lima hari ini terdiri dari hari-hari:

Legi,

Paing,

Pon,

Wage, dan

Kliwon.

Penggabungan antara Siklus 5 hari pasaran dengan Siklus 7 hari kalender matahari yang berarti (5 x 7) = 35 hari, disebut Selapan , mis : Selasa Pon, Minggu Pahing, dls pasti akan ketemu setiap 35 hari kedepannya. Jika budaya barat merayakan hari lahir setiap tahun sekali, maka Masyarakat Jawa memperingati hari kelahiran setiap 35 hari sekali yang dirayakan dengan acara "bancakan" dengan membuat Jenang Merah Putih atau "Nasi Megono" mengundang teman-teman sebaya.

Kemudian istilah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya, memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7, 6 dan 5 hari berpapasan.

Referensi

Wikipedia, ensiklopedia bebas

Pigeaud, Th., 1938Javaans-Nederlands WoordenboekGroningen-Batavia: J.B. Wolters

Ricklefs, M.C., 1978Modern Javanese historical tradition: a study of an original Kartasura chronicle and related materials. London: School of Oriental and African Studies, University of London

DAFTAR NOMER TELEPON KERETA API CABANG


Ambarawa = 0298-3591035
Babat = 0322-451022
Bandung = 022-4203367
Bangil = 0343-741124
Banjar = 0265-741062
Banyuwangi Baru = 0333-510396
Batang = 0285-391072
Bekasi = 021-8841901
Blitar = 0342-801940
Bogor = 0251-322101
Bojonegoro = 0353-881167
Brebes = 0283-671771
Bumiayu = 0289-432514
Cepu = 0296-421016
Cibatu = 0262-466003
Cikampek = 0264-316004
Cilacap = 0282-621842
Cirebon Kejaksan = 0231-210444
Cirebon Parujakan = 0231-202577
Gambir = 021-3862361
Gombong = 0287-471001
Jakarta Kota = 021-6928515
Jatibarang = 0234-351012
Jatinegara = 021-8192318
Jember = 0331-487202
Jombang = 0321-861166
Kalibaru = 0333-897322
Kalisat = 0331-591002
Kalisetail = 0333-845102
Karanganyar = 0287-551066
Karangasem = 0333-424306
Karangtalu = 0282-540451
Karawang = 0267-402104
Kebumen = 0287-381215
Kediri = 0354-682928
Kertosono = 0358-551424
Kroya = 0282-494005
Kutoarjo = 0275-641023
Lamongan = 0322-321037
Lempuyangan = 0274-512454
Madiun = 0351-462014
Malang = 0341-362203
Manggarai = 021-8292444
Maos = 0282-695001
Merak = 0254-571001
Mojokerto = 0321-322229
Pasar Senen = 021-4210164
Pasuruan = 0343-424032
Pekalongan = 0285-421161
Pemalang = 0284-322202
Probolinggo = 0335-421565
Purbalingga = 0281-892243
Purwokerto = 0282-637037
Purworejo = 0275-321006
Rambipuji = 0331-711231
Rogojampi = 0333-631416
Semarang Poncol = 024-3544496
Semarang Tawang = 024-3552093
Sidareja = 0280-523550
Sidoarjo = 031-8921005
Slawi = 0283-491805
Solo Balapan = 0271-644122
Solo Jebres = 0271-646408
Surabaya Gubeng = 031-5034468
Surabaya Kota = 031-3521465
Surabaya Pasar Turi = 031-5345014
Tanah Abang = 021-3149872
Tanggul = 0336-441013
Tasikmalaya = 0265-330663
Tegal = 0283-353018
Wonokromo = 031-8410649
Wonosobo = 0286-21021
Yogyakarta = 0274-589685